Asuhan Keperawatan Tifus Abdominalis | Kumpulan Asuhan Keperawatan

Asuhan Keperawatan Tifus Abdominalis

February 1st, 2012 0 Comments

header12

header12

header12

PREVIEW VIDEO ISI DVD KEPERAWATAN

header12

header12

header12

LAPORAN PENDAHULUAN TIFUS ABDOMINALIS

I. Definisi

Tifus Abdominalis (demam tifoid enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang besarnya tedapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. (FKUI, 1985)

Tifus abdominalis adalah infeksi yang mengenai usus halus, disebarkan dari kotoran ke mulut melalui makanan dan air minum yang tercemar dan sering timbul dalam wabah. (Markum, 1991).

II. Etiologi

Tyfus abdominalis disebabkan oleh salmonella typhosa, basil gram negatif, bergerak dengan bulu getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurngnya 3 macam antigen yaitu antigen O (somatic terdiri dari zat komplek lipopolisakarida), antigen H (flagella) dan antigen Vi. Dalam serum penderita terdapat zat anti (glutanin) terhadap ketiga macam antigen tersebut.

 

 

III. Patofisiologi

Kuman salmonella typhosa masuk kedalam saluran cerna, bersama makanan dan minuman, sabagian besar akan mati oleh asam lambung HCL dan sebagian ada yang lolos (hidup), kemudian kuman masuk kedalam usus (plag payer) dan mengeluarkan endotoksin sehingga menyebabkan bakterimia primer dan mengakibatkan perdangan setempat, kemudian kuman melalui pembuluh darah limfe akan menuju ke organ RES terutama pada organ hati dan limfe.

Di organ RES ini sebagian kuman akan difagosif dan sebagian yang tidak difagosif akan berkembang biak dan akan masuk pembuluh darah sehingga menyebar ke organ lain, terutama usus halus sehingga menyebabkan peradangan yang mengakibatkan malabsorbsi nutrien dan hiperperistaltik usus sehingga terjadi diare. Pada hipotalamus akan menekan termoregulasi yang mengakibatkan demam remiten dan terjadi hipermetabolisme tubuh akibatnya tubuh menjadi mudah lelah.

Selain itu endotoksin yang masuk kepembuluh darah kapiler menyebabkan roseola pada kulit dan lidah hipermi. Pada hati dan limpa akan terjadi hepatospleno megali. Konstipasi bisa terjadi menyebabkan komplikasi intestinal (perdarahan usus, perfarasi, peritonitis) dan ekstra intestinal (pnemonia, meningitis, kolesistitis, neuropsikratrik).

 

IV. Manifestasi Klinis

Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi terjadi melalui makanan, sedangkan yang terlama 30 hari jika infeksi melalui minuman. Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodomal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersamangat kemudian menyusul gejala klinis sbb:

? Demam

Berlangsung selama 3 minggu, bersifat febris remiten dan suhu tidak terlalu tinggi. Selama minggu pertama duhu berangsur-angsur meningkat, biasanya turun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Pada minggu ke-2 penderita terus demam dan minggu ke-3 penderita demamnya berangsur-angsur normal.

? Gangguan pada saluran pencernaan

Nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah putih kotor (coated tongue) ujung dan tepi kemerahan, perut kembung, hati dan limpa membesar. disertai nyeri pada perabaan

? Gangguan kesadaran

Kesadaran menurun walaupun tidak berapa dalam yaitu apatis sampai samnolen.

Disamping gejala-gejala tersebut ditemukan juga pada penungggungdan anggota gerak dapat ditemukan roseola yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit.

 

 

 

V. Pathways

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VI. Diagnosa Keperawatan

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d arbsorpsi nutrisi

2. Hipertermi b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus

3. Resiko tinggi kurang volume cairan b/d kehilangan cairan sekunder terhadap diare

4. Intoleransi aktivitas b/d peningkatan kebutuhan metabolisme sekunder terhadap infeksi akut

5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi b/d kesalahan interpretasi informasi, kurang mengingat

 

VII. Focus Intervensi

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d arbsorpsi nutrisi

Tujuan:

Kebutuhan nutrisi terpenuhi

Intervensi:

a. Dorong tirah baring

Rasional:

Menurunkan kebutuhan metabolic untuk meningkatkan penurunan kalori dan simpanan energi

b. Anjurkan istirahat sebelum makan

Rasional:

Menenangkan peristaltic dan meningkatkan energi makan

 

c. Berikan kebersihan oral

Rasional :

Mulut bersih dapat meningkatkan nafsu makan

d. Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan menyenangkan

Rasional:

Lingkungan menyenangkan menurunkan stress dan konduktif untuk makan

e. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat

Rasional:

Nutrisi yang adekuat akan membantu proses

f. Kolaborasi pemberian nutrisi, terapi IV sesuai indikasi

Rasional:

Program ini mengistirahatkan saluran gastrointestinal, sementara memberikan nutrisi penting.

2. Hipertermi b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus

Tujuan:

Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal

Intervensi:

a. Pantau suhu klien

Rasional:

Suhu 380 C sampai 41,10 C menunjukkan proses peningkatan infeksius akut

b. pantau suhu lingkungan, batasi atau tambahkan linen tempat tidur sesuai dengan indikasi

Rasional:

Suhu ruangan atau jumlah selimut harus dirubah, mempertahankan suhu mendekati normal

c. Berikan kompres mandi hangat

Rasional :

Dapat membantu mengurangi demam

d. Kolaborasi pemberian antipiretik

Rasional:

Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya hipotalamus

3. Resiko tinggi kurang volume cairan b/d kehilangan cairan sekunder terhadap diare

Tujuan:

Mempertahankan volume cairan adekuat dengan membran mukosa, turgor kulit baik, kapiler baik, tanda vital stabil, keseimbangan dan kebutuhan urin normal

Intervensi:

a. Awasi masukan dan keluaran perkiraan kehilangan cairan yang tidak terlihat

Rasional:

Memberikan informasi tentang keseimbangan cairan dan elektrolit penyakit usus yang merupakan pedoman untuk penggantian cairan

b. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa turgor kulit dan pengisian kapiler

Rasional:

Menunjukkan kehilangan cairan berlebih atau dehidrasi

c. Kaji tanda vital

Rasional :

Dengan menunjukkan respon terhadap efek kehilangan cairan

d. Pertahankan pembatasan peroral, tirah baring

Rasional:

Kalau diistirahkan utnuk penyembuhan dan untuk penurunan kehilangan cairan usus

e. Kolaborasi utnuk pemberian cairan parenteral

Rasional:

Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan cairan untuk mempertahankan kehilangan

4. Intoleransi aktivitas b/d peningkatan kebutuhan metabolisme sekunder terhadap infeksi akut

Tujuan:

Melaporkan kemampuan melakukan peningkatan toleransi aktivitas

Intervensi:

a. Tingkatkan tirah baring dan berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung

Rasional:

Menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan

b. Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit yang baik

Rasional:

Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan resiko kerusakan jaringan

c. Tingkatkan aktifitas sesuai toleransi

Rasional :

Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan karena keterbatasan aktifitas yang menganggu periode istirahat

d. Berikan aktifitas hiburan yang tepat (nonton TV, radio)

Rasional:

Meningkatkan relaksasi dan hambatan energi

5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi b/d kesalahan interpretasi informasi, kurang mengingat

Tujuan:

Dapat menyatakan pemahaman proses penyakit

Intervensi:

a. berikan nformasi tentang cara mempertahankan pemasukan makanan yang memuaskan dilingkungan yang jauh dari rumah

Rasional:

Membantu individu untuk mengatur berat badan

b. Tentukan persepsi tentang proses penyakit

Rasional:

Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu

c. Kaji ulang proses penyakit, penyebab/efek hubungan faktor yang menimbulkan gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan faktor pendukung

Rasional :

Faktor pencetus/pemberat individu, sehingga kebutuhan pasien untuk waspada terhadap makanan, cairan dan faktor pola hidup dapat mencetuskan gejala

 

VIII. Komplikasi

Dapat terjadi pada:

1. Usus halus

Umumnya jarang terjadi, akan tetapi sering fatal yaitu:

a. Perdarahan usus bila sedikit hanya ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Bila perdarahan banyak terjadi melena dan bila berat dapat disertai perasaan nyari perut dengan tanda-tanda rejatan

b. Perforasi usus

c. Peritonitis ditemukan gejala abdomen akut yaitu: nyeri perut yang hebat, diding abdomen dan nyeri pada tekanan

 

 

2. Diluar anus

Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakterimia) yaitu meningitis, kolesistitis, ensefelopati. Terjadi karena infeksi sekunder yaitu bronkopneumonia

 

IX. Pemeriksaan Penunjang

Untuk memastikan diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium antara lain sebagai berikut:

a. Pemeriksaan darah tepi

b. Pemeriksaan sumsum tulang

c. Biakan empedu untuk menemukan salmonella thyposa

d. Pemeriksaan widal digunakan untuk membuat diagnosis tifus abdominalis yang pasti

X. Penatalaksanaan

Pengobatan/penatalaksaan pada penderita typus abdominalis adalah sebagai berikut:

1. Isolasi penderita dan desinfeksi pakaian dan ekskreta

2. Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi

3. Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu

4. Diet makanan harus mengandung cukup cairan dan tinggi protein

5. Obat Kloramfenikol

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Carpenito, L. J (1997). Buku Saku Keperawatan. Edisi VI.EGC: Jakarta

Doengoes M.E (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi III. EGC : Jakarta

Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi XII. EGC : Jakarta

Staf Pengajar IKA (1995). Ilmu Kesehatan Anak. EGC : Jakarta

mansjoer. A (2000). Kapikta Selekta kedokteran. edisi IV. EGC: Jakarta

Sarwana (1996). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi III. FKUI: Jakarta.

Artikel:

askep tipes, askep tifus, askep tifus abdominalis, laporan pendahuluan tipes, laporan pendahuluan typus abdominalis, askep tipus abdominalis, askep tipus, contoh soap ibu hamil dengan thypus abdominalis, laporan pendahuluan tifus abdominalis, contoh askep tipes, woc sol, laporan pendahuluan tipus, woc typhus abdominalis, etiologi tipes, patofisiologi tipes, laporan pendahuluan tifus, Contoh Kasus Diagnosa Keperawatan penyakit typus, askep typhoid, asuhan keperawatan tifus abdominalis, pathways tipus, Askep thypus, contoh kasus askep, askep penyakit tifus, diagnosa keperawatan tifus, askep types, laporan analisa gadar typoid, kasus askep typoid pada anak-anak woc, askep tifus abdomen Dan rasional nya, analisa data KTI : thypoid demam umur 3tahun, proposal kti kolik abdomen, woc demam typhoid, Rencana Keperawatan penyakit tipus, pengkajian sakit tipes, askep keperawatan tipes, askep thipus abdominalis, study kasus askep thipoid, pendahuluan tifus abdominalis, laporan pendahuluan ulkus pedis, teori asuhan keperawatan tifus, tifus abdominal, laporan pendahuluan terbaru tentang demam typhoid lengkap dengan WOC, lp obstruksi febris, laporan peendahuluan tifus abdomenalis, laporan kassus thermoregulasi, Contoh asuhan keperawatan tipes, kasus keperawatan pada anak usia toddler dengan diagnosa medis typhoid, Makalah Askep Pada Pasien Typus abdominalis, soapie askep demam typoid, lp tifus, lp typus pada anak, penatalaksanaan keperawatan tifus abdominalis, pdf askep tipes, pengkajian fokus kolik abdomen, pdf askep tifus, patofisiologi tipus, patofisiologi tifus abdominalis, patofisiologi dan pathway demam thipoid, pathway thypus berbentuk bagan, soapier contoh kasus demam, pathway askep sol, mukosa heperemis berat diusus artinya?, makalah askep typus, Makalah askep penyakit tipus, resume askep typhoid, skema patofisiologi thypoid, kasus askep tentang tifus, intervensi tifus, askeb laporan pendahuluan tipes, askep tifus abdomen, askep tifus abdominal, asuhan keperawatan pada anak dengan tipes, asuhan keperawatan penyakit tifus, asuhan keperawatan penyakit tipes, ASUHAN KEPERAWATAN TIPES, asuhan keperawatan typhus abdominalis yg terlengkap, bagan fatofisiologi pada pasen typoid fever, bagan potofisiologi typoid, askep tifes, askep thipus abdomanalis, askep analisa data tipes, askep demam tipes abdominalis tahun 2012, askep ibu hamil dengan penyakit typhoid abdominalis, Askep infeksi gram positif dan negatif, askep keperawatan tifes, askep pada klien dengan tifus abdominal, askep Penyakit tifus tabel, askep salmonella typhosa, askep terlengkap typhus abdominalis, Contoh askep kasus tipes, Contoh askep kasus typus, contoh askep penyakit tipes, contoh laporan diagnosis penyakit tipes, contoh lengkap askep demam thipus, contoh makalah typhoid abdominalis, contoh soap balita tipes, Contohkasus askep typoid, diagnosa keperawatan dengan diagnosa tipes, diagnosa keperawatan penyakit tifus, diagnosa keperawatan tipes, format pengkajian pada penyakit tipes, contoh KTI penyakit colic abdomen, contoh kasus tifus pada pengkajian data, contoh askep typus, contoh asuhan keperawata tifus, contoh asuhan keperawatan dengan kasus termoregulasi, contoh format pengkajian tipes, contoh kasus soap heg dan tifoid, contoh kasus termogulasi, contoh kasus termoregulasi dan askep, contoh kasus thypus abdominalis, contoh kasus tifus, IndiKASI SIRVEILING tipus abdominalis
 

Suka artikel ini, Bagikan dengan teman-teman kamu!

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
rss feed bookmar
   
 photo banner300x250.gif
 photo rambutsambungcom300X250.gif

Archives

Categories

Dilihat Terakhir:

Online Visitor