ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN OMA, OMK, DAN MASTOIDITIS | Kumpulan Asuhan Keperawatan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN OMA, OMK, DAN MASTOIDITIS

February 26th, 2013 0 Comments

header12

header12

header12

PREVIEW VIDEO ISI DVD KEPERAWATAN

header12

header12

header12

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1.   Latar Belakang

Telinga merupakan salah satu dari kelima alat indera manusia. Gangguan yang terjadi pada organ ini dapat berakibat buruk bagi si penderita, yaitu ia tidak dapat melakukan kegiatan mendengar secara optimal. Beberapa diantara gangguan tersebut adalah otitis media baik itu otitis media akut(OMA) maupun otitis media kronis(OMK)  dan juga mastoiditis. Selain itu, terdapat satu gangguan lagi pada telinga yaitu mastoiditis. Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomyelitis (Smeltzer, 2001).

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh WHO,diperkirakan sekitar 90% manusia pernah mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum umur 2 tahun dan puncak insidens kedua adalah tahun pertama sekolah dasar (Healy, 1996; Paparella et al,1997). Di Indonesia, berdasarkan survei Departemen Kesehatan tahun 1996 7 propinsi di Indonesia, ditemukan insiden OM (atau yang dikenal orang awam sebagai “congek” atau “curikan”) sebesar 3% dari penduduk Indonesia. Penduduk Indonesia saat itu berjumlah 220 juta, dengan demikian diperkirakan terdapat 6,6 juta penderita OM (Surheyanto, 2000). Insidens otitis media pada anak-anak di Indonesia berbeda-beda, disimpulkan rata-rata 14-62 %.

Gangguan  pada telinga bagian tengah bukan termasuk hal yang kecil. Kurangnya kebersihan dan penanganan yang salah dapat menjadikan gangguan tersebut bertambah parah dan telinga kehilangan fungsinya. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha preventif dan penanganan yang tepat terhadap gangguan- gangguan tersebut.

 

1.2.   Rumusan Masalah

1)   Apa itu OMA, OMK dan mastoiditis?

2)   Bagaimana etiologi dan manifestasi klinis dari gangguan pada telinga tersebut?

3)   Bagaimana patofisiologi dari penyakit tersebut?

4)   Bagaimana penatalaksanaan dari gangguan pada telinga tersebut?

5)   Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan OMA, OMK dan mastoiditis?

 

1.3.   Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu menjelaskan konsep tentang gangguan pada sistem pendengaran yakni OMA, OMK dan mastoiditis serta asuhan keperawatan pada ketiga gangguan tersebut.

 

1.3.2. Tujuan Khusus.

a)    Mengetahui pengertian tentang OMA, OMK dan mastoiditis

b)   Mengetahui manifestasi klinis dari OMA, OMK dan mastoiditis

c)    Mengetahui patofisiologi pada OMA, OMK dan mastoiditis

d)   Mengetahui proses keperawatan pada pasien dengan OMA, OMK dan mastoiditis

 

1.4.   Manfaat

Makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa untuk dapat mengetahui macam- macam gangguan pada telinga khususnya telinga tengah yakni OMA, OMk dan mastoiditis dan asuhan keperawatan dari ketiga gangguan tersebut.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1.      OTITIS MEDIA AKUT 

2.1.1. Definisi OMA 

Otitis media (OM) merupakan infeksi atau peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Inflamasi ini umumnya terjadi saat infeksi pada tenggorokan dan sistem respiratori menyebar sampai ke telinga tengah. Infeksi dapat disebabkan oleh virus atau bakteri, dan dapat dalam bentuk akut maupun kronik (Perlstein, 2005). Radang telinga tengah (otitis media/ OM) ini sering terjadi pada anak-anak dan menjadi masalah paling umum kedua pada praktek pediatrik (Paparella et al, 1997).  

OMA (Otitis media akuta) merupakan infeksi akut pada telinga tengah yang pada umumnya disebabkan oleh bakteri. Didahului oleh infeksi pada hidung dan / atau tenggorok. Infeksi jenis ini banyak dijumpai pada anak – anak dibanding dewasa.

 

2.1.2. Etiologi OMA 

Penyebab utama otitis media akuta adalah masuknya bakteri patogenetik ke dalam telinga tengah yang normalnya steril. Paling sering terjadi bila terjadi disfungsi tuba eusthacius seperti obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran pernapasan, inflamasi  jaringan disekitarnya. Misalnya sinusitis, hipertrofi adenoid, atau reaksi alergi misalnya rinit alergika. Bakteria yang umum ditemukan sebagai organisme penyebab adalah streptococus pneumonia, hemopilus influenza, dan moraxella catarralis. Cara masuk bakteri pada kebanyakan pasien kemungkinan melalui tuba eustachii akibat konsentrasi sekresi dalam nasofaring. Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada perforasi membran timpani. Eksudat purulen biasanya ada pada telinga tengah dan mengakibatkan kehilangan pendengaran konduktif.

 

2.1.3. Manifestasi Klinis OMA 

Gejala otitis media dapat bervariasi menurut beratnya infeksi dan bisa ringan dan sementara atau sangat berat. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa, dan mungkin terdapat otalgia. Nyeri akan hilang secara spontan bila terjadi perforasi spontan membrana timpani atau setelah dilakukan miringotomi (insisi membran timpani). Gejala lain dapat berupa keluarnya cairan dari telinga, demam, kehilangan pendengaran, dan tinitus. Pada pemeriksaan otoskopis, kanalis auditorius eksternus sering tampak normal, dan tidak terjadi nyeri bila aurikula digerakan. Membrana timpani tampak merah dan sering menggelembung.

 

 

 

 

2.1.4.  Pemeriksaan Diagnostik OMA

  1. a.      Otoscope

Pemeriksaan diagnostik melalui otoskop dilakukan dengan menekan balon berisi udara yang dihubungkan ke otoskop. Bolus kecil udara dapat diinjeksikan ke   dalam telinga luar. Mobilitas membran timpani dapat diobservasi oleh pemeriksa melalui otoskop, tampak adanya penonjolan membran timpani dan mobilitas membran timpani berkurang (Corwin, 2009). Pada pemeriksaan otoskopis, kanalis auditorius eksternus sering tampak normal, dan tak terjadi nyeri bila aurikula digerakkan.

  1. b.      Timpanometri
    1. c.         Kultur dan Uji Sensitivitas
Timpanometri adalah pemeriksaan atau pengukuran fungsi telinga tengah, antara lain yaitu mobilitas gendang telinga, fungsi tuba eustachius, kondisi kavum timpani. Manfaat dari timpanometri untuk screening/menilai kondisi liang telinga. Timpanometri memunculkan timpanogram yaitu sebuah grafik yang mengaitkan tekanan telinga tengah dan complience. Pada timpanogram tidak didapatkan puncak/ flat, biasanya disebabkan karena adanya cairan di telinga tengah. Selain itu bisa timpanogram menunjukkan adanya puncak namun bergeser ke kiri yang menunjukkan adanya tekanan negatif disebabkan karena disfungsi tuba.

Kultur dan uji sensitifitas dilakukan untuk mengidentifikasi organisme pada sekret telinga.

  1. d.        Pengujian Audiometrik

Pengujian audiometrik menghasilkan data dasar atau mendeteksi setiap kehilangan pendengaran sekunder akibat infeksi berulang.

 

2.1.5. Penatalaksanaan OMA

Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung pada efektifitas terapi (dosis antibiotika oral yang diresepkan dan durasi terapi ), virulensi bakteri, dan status fisik klien. Terapi yang dapat diberikan untuk klien otitis media akut diantaranya yaitu :

  1. Antibiotik

Antibiotik spektrum luas dan awal, otitis media dapat hilang tanpa gejala sisa yang serius. Bila terjadi pengeluaran cairan, biasanya perlu diresepkan preparat otik antibiotika. Kondisi bisa berkembang dengan subakut dengan pengeluaran cairan purulen menetap dari telinga. Jarang sekali terjadi kehilangan pendengaran permanen. Antibiotik yang efektif digunakan adalah amoksilin. Amoksilin menghasilkan perbaikan gejala dalam 48-72 jam.Dalam 24 jam pertama terjadi stabilisasi, sedang dalam 24 jam kedua mulai terjadi perbaikan. Jika pasien tidak membaik dalam 48-72 jam, kemungkinan ada penyakit lain atau pengobatan yang diberikan tidak memadai. Dalam kasus seperti ini dipertimbangkan pemberian antibiotik lini kedua, misalnya amoksisilin dengan klavulanat. Amoksisilin dengan klavulanat diberikan kepada pasien dengan gejala berat atau OMA yang kemungkinan disebabkan Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis.

  1. Analgesik / pereda nyeri

Selain antibiotik, penanganan OMA selayaknya disertai penghilang nyeri (analgesia).Analgesia yang umumnya digunakan adalah analgesia sederhana seperti paracetamol atau ibuprofen. Namun perlu diperhatikan bahwa pada penggunaan ibuprofen, harus dipastikan bahwa klien tidak mengalami gangguan pencernaan seperti muntah atau diare karena ibuprofen dapat memperparah iritasi saluran cerna.

  1. Antipiretik / pereda demam
  2. Miringotomi (Timpanotomi)

Insisi pada membran timpani dikenal sebagai miringotomi. Membran timpani dianestesi menggunakan anestesi lokal seperti fenol atau menggunakan iontoforesis. Anestesi ini membuat liang telinga dan membran timpani kebas. Prosedur ini tidak menimbulkan nyeri dan berlangsung tidak sampai lima belas menit. Di bawah mikroskop kemudian dibuat insisi melalui membran timpani untuk mengurangi tekanan dan mengalirkan cairan serosa atau purulen dari telinga tengah. Insisi akan menyembuh dalam 24 atau 72 jam. Bila otitis media akut terjadi berulang dan tidak ada kontraindikasi, dapat dipasang tabung ventilasi atau penyeimbang tekanan. Tabung ventilasi secara temporer mengambil alih tugas tuba eustachii dalam menyeimbangan tekanan dan dipertahankan selama 16-18 bulan. Tabung ventilasi lama kelamaan akan diekstrusi oleh migrasi kulit normal membran timpani, dan lubang dapat sembuh dalam setiap kasus.

 

2.1.6. Komplikasi OMA

Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien OMA adalah :

  1. Perforasi membran timpani

Lubang pada membran timpani yang disebabkan oleh tekanan telinga tengah negatif dan kronis, inflamasi, atau trauma.

  1. Mastoiditis
  2. Gangguan pendengaran selama beberapa bulan
  3. Keterlambatan bicara
  4. Tromboflebitis serebral
  5. Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis)
  6. Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)
  7. Kelumpuhan pada wajah
  8. Tuli
  9. Peradangan pada selaput otak (meningitis)
  10. Abses otak

 

Tanda-tanda terjadinya komplikasi adalah:

  1. Sakit kepala
  2. Tuli yang terjadi secara mendadak
  3. Vertigo (perasaan berputar)
  4. Demam dan menggigil.

 

2.1.7. Prognosis OMA

Prognosis pada Otitis Media Akut baik apabila diberikan terapi yang adekuat berupa antibiotik yang tepat dan dosis yang cukup.

 

2.1.8.  Patofisiologi OMA

Patogenesis terjadinya OMA sangat berkaitan erat dengan kondisi tuba eustacius, baik secara anatomis maupun fisiologis. Pada umumnya OMA terjadi karena nasofaringitis akibat rinitis akuta dan mengakibatkan kegagalan ventilasi pada kavum timpani. Selanjutnnya terjadi kavum dan transudasi serta eksudasi pada kavum timpani. Perjalanan penyakit pada OMA ini terjadi dalam 4 stadium:

  1. Stadium I : inflamasi

Stadium inflamasi merupakan peradangan pada telinga tengah, yang ditandai oleh Rubor (redness), Kalor (panas ), Tumor (benjol), Dolor (bengkak), Fungsiolaesa (Penurunan fungsi tubuh) atau sering disebut dengan (RKTDF). Stadium inflamasi atau disebut juga stadium kataral akan terjadi keluhan telinga terasa penuh dan pendengaran menurun yang diawali oleh terjadinya rhinitis akuta. Tanda klinis pada membran timpani adalah warna mulai hiperemi, posisi retraksi atau kadang – kadang tampak air fluid level. Bila penderita datang pada stadium ini maka  terapi yang diberikan adalah antibiotika Amoksilin / kotrimoksasol dan obat simtomatik.

  1. Stadium II : supurasi

Stadium supurasi merupakan pembentukan push yang akan terjadi bila penyakit terus berjalan akan terjadi stadium supurasi. Keluhan utama adalah otalgi hebat. Pada anak – anak yang belum dapat menyampaikan keluhan, maka anak akan rewel kadang muntah, dan anoreksia. Gejala lain adalah demam, pada anak dapt terjadi kejang. Pendenganran tertap kurang. Tanda klinis yang tampak adalah membrane timpani bombans dan hipremi. Terapi sama dengan pada stadium I, dan parasintesis pada membran timpani

  1. Stadium III : perforasi

Bila stadium II terlewati tanpa terapi yang benar maka akan terjadi stadium perforasi. Stadium perforasi merupakan pembentukan lubang pada telinga akibat infeksi. Gejala pada stadium ini yang menonjol adalah otore yang tentu saja didahului oleh otalgi, pendengaran tetap menurun. Tanda klinis pada membrane timpani adalah perforasi pada pars tensa umumnya kecil dan toilet telinga yang benar. Pada stadium ini diusahakan sudah tak terjadi otore setelah paling lama 2 minggu. Maka lebih baik dari 2 minggu masih terjadi otore harus dirujuk ke dokter THT.

 

 

  1. Stadium IV : resolusi

Apabila stadium III terlewati sebelum 2 minggu maka akan terjadi stadium IV. Pada stadium ini penderita mengeluh pendengarannya masih belum kembali normal. Tanda klinis pada membrane timpani adalah perforasi masih tampak tapi warna mulai kembali normal dan tidak tampak secret. Terapi pada stadium ini tidak ada. Penderita diberikan edukasi untuk menjaga hygiene telinga dan control 2-4 minggu kemudian untuk melihat apakah membrane timpani dapat menutup menutup secara spontan. Apabila tetap ada perforasi dapat dirujuk ke THT untuk dilakukan stimulasi dan epitelisasi atau miringoplasti.

Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga keseterilan telinga tengah. Faktor penyebab utamanya adalah sumbatan tuba eustachius sehingga pencegahan invasi kuman terganggu. Pencetusnya adalah infeksi saluran napas atas. Penyakit ini mudah terjadi pada bayi karena ruba eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak horizontal (Mansjoer et al, 2001).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.1.9.      WOC OMA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2.OTITIS MEDIA KRONIS

2.2.1        Definisi OMK

Otitis media kronik merupakan kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible. OMK (Otitis Media Kronis) ialah perforasi yang permanen dari membran timpani, dengan atau tidak dengan perubahan permanen pada telinga tengah (merck, 2004). Sebagian besar OMK merupakan kelanjutan dari Otitis Media Akut (OMA) dan sebagian kecil disebabkan oleh perforasi membran timpani akibat trauma telinga. Kuman penyebab biasanya kuman gram positif aerob, pada infeksi yang sudah berlangsung lama sering juga terdapat kuman gram negatif dan kuman anaerob (Djaafar, 2002).

Kuman penyebab OMK antara lain kuman Staphylococcus aureus (26%), Pseudomonas aeruginosa (19,3%), Streptococcus epidermidimis (10,3%), gram positif lain (18,1%) dan kuman gram negatif lain (7,8%). Biasanya pasien mendapat infeksi telinga ini setelah menderita saluran napas atas misalnya influenza atau sakit tenggorokan. Melalui saluran yang menghubungkan antara hidup dan telinga (tuba Auditorius), infeksi di saluran napas atas yang tidak diobati dengan baik dapat menjalar sampai mengenai telinga. (kalbefarma, 2002).

Otitis Media Kronik diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu :

  1. Tipe tubotimpani (tipe benigna/ tipe aman/ tipe mukosa)

Tipe ini ditandai adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Proses peradangan pada OMK posisi ini terbatas pada mukosa saja, biasanya tidak mengenai tulang, umumnya jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius, infeksi saluran nafas atas, kegagalan pertahanan mukosa terhadap infeksi pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah, campuran bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa serta migrasi sekunder dari epitel squamosa. Sekret mukoid berhubungan dengan hiperplasi sel goblet, metaplasi dari mukosa telinga tengah

OMK tipe benigna berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal 2 jenis,yaitu :

1)      OMK aktif adalah OMK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif

2)       OMK tenang apabila keadaan kavum timpani terlihat basah atau kering.

  1. Tipe Atikoantral (tipe malignan/ tipe bahaya)

Tipe ini ditandai dengan perforasi tipe marginal atau tipe atik, disertai dengan kolesteatom dan sebagian besar komplikasi yang berbahaya dan fatal timbul pada OMK tipe ini.

 

 

 

2.2.2        Etiologi OMK

Biasanya disebabkan karena episode berulang otitis media akut. Sering berhubungan dengan perforasi menetap membran timpani. Infeksi kronik telinga tengah tak hanya mengakibatkan kerusakan membran timpani tetapi juga dapat menghancurkan osikulus dan hampir selalu melibatkan mastoid.

Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang dijumpai pada anak dengan cleft palate dan Down’s syndrom. Adanya tuba patulous, menyebabkan refluk isi nasofaring yang merupakan faktor insiden OMK yang tinggi di Amerika Serikat. Kelainan humoral (seperti hipogammaglobulinemia) dan cell-mediated (seperti infeksi HIV, sindrom kemalasan leukosit) dapat manifest sebagai sekresi telinga kronis.

Penyebab lain OMK diantaranya adalah:

  1. Lingkungan
  2. Genetik
  3. Otitis media sebelumnya.
  4. Infeksi
  5. Infeksi saluran nafas atas
  6. Autoimun
  7. Alergi
  8. Gangguan fungsi tuba eustachius.

 

2.2.3        Manifestasi Klinis OMK

Gejala dapat minimal, dengan berbagai derajat kehilangan pendengaran dan terdapat otorea interminet atau persisten yang berbau busuk. Kolesteatoma biasanya menyebabkna nyeri. Evaluasi otoskopik membrana timpani memperlihatkan adanya perforasi, dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih dibelakang membrana timpani atau keluar ke kanalis eksternus melalui lubang perforasi. Hasil audiometri pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran.

Kolesteatom adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi epitel (keratin). Deskuamasi terbentuk terus lalu menumpuk sehingga kolesteatom bertambah besar. Banyak teori mengenai patogenesis terbentuknya kolesteatom diantaranya adalah teori invaginasi, teori migrasi, teori metaplasi, dan teori implantasi. Kolesteatom merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman (infeksi), terutama Proteus dan Pseudomonas aeruginosa. Infeksi akan memicu proses peradangan lokal dan pelepasan mediator inflamasi yang dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks kolesteatom bersifat hiperproliferatif, destruksi, dan mampu berangiogenesis. Massa kolesteatom ini dapat menekan dan mendesak organ disekitarnya sehingga dapat terjadi destruksi tulang yang diperhebat oleh pembentukan asam dari proses pembusukan bakteri. Proses nekrosis tulang ini mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis, meningitis dan abses otak.

Gejala berdasarkan tipe Otitis Media Kronis adalah:

1)      OMK tipe benigna

Gejalanya berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk,ketika pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan pembersihan dan penggunaan antibiotiklokal biasanya cepat menghilang, discharge mukoid dapat konstan atau intermitten.

Gangguan pendengaran konduktif selalu didapat pada pasien dengan derajat ketulian tergantung beratnya kerusakan tulang-tulang pendengaran dan koklea selama infeksi nekrotik akut pada awal penyakit.

Perforasi membrane timpani sentral sering berbentuk seperti ginjal tapi selalu meninggalkan sisa pada bagian tepinya . Proses peradangan pada daerah timpani terbatas pada mukosa sehingga membrane mukosa menjadi berbentuk garis dan tergantung derajat infeksi membrane mukosa dapt tipis dan pucat atau merah dan tebal, kadang suatu polip didapat tapi mukoperiosteum yang tebal dan mengarah pada meatus menghalangi pandangan membrane timpani dan telinga tengah sampai polip tersebut diangkat . Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba eustachius yang mukoid dan setelah satu atau dua kali pengobatan local bau busuk berkurang.

2)      OMK tipe maligna dengan kolesteatoma

Sekret pada infeksi dengan kolesteatom beraroma khas, sekret yang sangat bau dan berwarna kuning abu-abu, kotor purulen dapat juga terlihat keping-keping kecil, berwarna putih mengkilat.

Gangguan pendengaran tipe konduktif timbul akibat terbentuknya kolesteatom bersamaan juga karena hilangnya alat penghantar udara pada otitis media nekrotikans akut. Selain tipe konduktif dapat pula tipe campuran karena kerusakan pada koklea yaitu karena erosi pada tulang-tulang kanal semisirkularis akibat osteolitik kolesteatom.

 

2.2.4        Pemeriksaan Diagnostik OMK

  1. a.      Pemeriksaan Audiometri

Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif.Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural, beratnya ketulian tergantung besar danletak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas

Derajat ketulian nilai ambang pendengaran :

Normal : -10 dB sampai 26 dB

Tuli ringan : 27 dB sampai 40 dB
Tuli sedang : 41 dB sampai 55 dB
Tuli sedang berat : 56 dB sampai 70 dB
Tuli berat : 71 dB sampai 90 dB
Tuli total : lebih dari 90 dB.

 

Untuk melakukan evaluasi ini, observasi yang bisa dilakukan :

1)        Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB

2)        Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif 30-50 dB apabila disertai perforasi.

3)        Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.

4)        Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun keadaan hantaran tulang, menunjukan kerusakan kohlea parah.

 

  1. b.      Pemeriksaaan Radiologi

1)        Proyeksi Schuller

Memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen

2)        Proyeksi Mayer atau Owen,

Diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telahmengenai struktur-struktur

3)        Proyeksi Stenver

Memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang lebih jelasmemperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis semisirkularis. Proyeksiini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanyapembesaran akibat

4)        Proyeksi Chause III

Memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom.

 

  1. c.       Bakteriologi

Bakteri yang sering dijumpai pada OMK adalah :

1)        Bakteri spesifik

Misalnya Tuberkulosis. Dimana Otitis tuberkulosa sangat jarang ( kurang dari 1%menurut Shambaugh). Pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh infeksi paru yanglanjut. Infeksi ini masuk ke telinga tengah melalui tuba. Otitis media tuberkulosa dapat terjadi pada anak yang relatif sehat sebagai akibat minum susu yang tidak dipateurisasi

2)        Bakteri non spesifik baik aerob dan anaerob.

Bakteri aerob yang sering dijumpai adalah Pseudomonas aeruginosa, stafilokokusaureus dan Proteus sp. Antibiotik yang sensitif untuk Pseudomonas aeruginosa adalahceftazidime dan ciprofloksasin, dan resisten pada penisilin, sefalosporin dan makrolid.Sedangkan Proteus mirabilis sensitif untuk antibiotik kecuali makrolid. Stafilokokusaureus resisten terhadap sulfonamid dan trimethoprim dan sensitif untuk sefalosforin generasi I dan gentamisin.

 

2.2.5        Penatalaksanaan OMK

Prinsip dasar penatalaksanaan medis OMK adalah (Mills,1997) :

  1. Pembersihan telinga secara adekuat (aural toilet)
  2. Pemberian anti mikroba topikal yang dapat mencapai lokasi dalam jumlah adekuat.
  3. Bedah

Ada beberapa jenis pembedahan yang dilakukan pada OMK :

1)         Mastoidektomi sederhana

Operasi dilakukan pada OMK tipe benigna yang dengan pengobatan konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya agar infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki.

2)         Mastordektomi radikal

Operasi ini dilakukan pada OMK maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologis dan mencegah komplikasi ke intrakranial.

3)      Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (operasi bondy)
Operasi ini dilakukan pada OMK dengan kolesteatom di daerah atik, tetapi belum merusak kavum timpani. Tujuan operasi untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid, dan mempertahankan pendengaran yang masih ada.

4)      Miringoplasti
Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe I, rekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada OMK tipe benigna dengan perforasi yang menetap.

5)         Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMK tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau OMK tipe benigna yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. (Soepardi, Arsyad, 1997, 55-57)

 

2.2.6        Komplikasi OMK

Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologikyang menyebabkan otore. Walaupun demikian organisme yang resisten dan kurangefektifnya pengobatan, akan menimbulkan komplikasi. biasanya komplikasi didapatkanpada pasien OMK tipe maligna, tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akutoleh kuman yang virulen pada OMK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi.

Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMK berhubungan dengan kolesteatom.

Komplikasi ditelinga tengah:

  1. Perforasi persisten membrane timpani
  2. Erosi tulang pendengaran
  3. Paralisis nervus fasial

Komplikasi telinga dalam

  1. Fistel labirin
  2. Labirinitis supuratif
  3. Tuli saraf ( sensorineural)

Komplikasi ekstradural

  1. Abses ekstradural
  2. Trombosis sinus lateralis
  3. Petrositis

Komplikasi ke susunan saraf pusat

  1. Meningitis
  2. Abses otak
  3. Hindrosefalus otitis

Komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial melewati tiga macam lintasan yaitu :

  1. Dari rongga telinga tengah ke selaput otak
  2. Menembus selaput otak
  3. c.    Masuk kejaringan otak

 

2.2.7        Prognosis OMK

  1. a.      OMK tipe benigna

Prognosis dengan pengobatan local, otorea dapat eongering. Tetapi sisa perforasi sentral yang berkepanjangan memudahkan infeski dari nasofaring atau bakteri dari meatus eksterna khususnya terbawa oleh air, sehingga penutupan membrane timpani disarankan.

  1. b.      OMK tipe maligna

Prognosis kolesteatom yang tidak diobati akan berkembang menjadi meningitis, abes otak, prasis fasialis atau labirintis supuratif yang semuanya fatal. Sehingga OMSK type maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti.

 

2.2.8        Patofisiologi OMK

Dibagi kedalam 2 jenis yaitu benigna atau tipe mukosa, dan menigna atau tipe tulang. Berdasarkan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif juga dikenal tipe aktif dan tipe tenang. Pada OMK benigna, pandangan terbatas pada mukosa saja, tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Jarang menimbulkan komplikasi berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. OMK tipe maligna disertai dengan kolesteatom. Perforasi terletak marginal, subtotal, atau di atik. Sering menimbulkan komplikasi yang berbahaya atau fatal (Mansjoer et al, 2001).

2.2.9        WOC OMK

Mastoidektomi, Miringoplasti, Timpanoplasti

MK : Nyeri

MK : Gangguan Komunikasi

MK : Kurang Pengetahuan

MK : Hipertermi

MK : Resiko Infeksi

Penurunan kemampuan melihat kearah samping

Paralisis N VI

Paralisis N VII

Mulut mencong

MK : Resiko Cidera

Penurunan pendengaran

Gangguan konduksi suara

Kolersteatoma

Destruksi tulang pendengaran

Penghancuran sel epitel skuamosa

Maligna

Benigna

Otitis Media Kronis

OMA berlanjut sampai lebih dari 3 bulan

OMA yang tidak diatasi dengan tepat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3      MASTOIDITIS

2.3.1        Definisi Mastoiditis

Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak pada tulang temporal. Mastoiditis terjadi karena Streptococcus ß hemoliticus / pneumococcus. Selain itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke dalam telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat menyebabkan infeksi traktus respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan menunjukkan bahwa terdapat pus yang berbau busuk akibat infeksi traktus respiratorius.

 

2.3.2   Etiologi Mastoiditis

Mastoiditis terjadi karena Streptococcus ß hemoliticus / pneumococcus. Selain itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke dalam telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat menyebabkan infeksi traktus respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan menunjukkan bahwa terdapat pus yang berbau busuk akibat infeksi traktus respiratorius. Mastoiditis merupakan hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri yang didapat pada mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga tengah. Bakteri gram negative dan streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang paling sering didapatkan pada infeksi ini. Seperti telah disebutkan diatas, bahwa keadaan-keadaan yang menyebabkan penurunan dari system imunologi dari seseorang juga dapat menjadi faktor predisposisi mastoiditis. Pada beberapa penelitian terakhir, hampir sebagian dari anak-anak yang menderita mastoiditis, tidak memiliki penyakit infeksi telinga tengah sebelumnya. Bakteri yang berperan pada penderita anak-anak ini adalah S. Pnemonieae.

Mastoiditis kronik lebih sering, dan beberapa ahli mengatakan infeksi kronik ini dapat mengakibatkan pembentukan kolesteatoma, yang merupakan pertumbuhan kulit ke dalam (epitel skuamosa) dari lapisan luar membran timpani ke telinga tengah. Kulit dari membran timpani lateral membentuk kantong luar, yang akan berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. Kantong dapat melekat ke struktur telinga tengah dan mastoid.

 

2.3.3   Manifestasi Klinis Mastoiditis

Pada mastoiditis akut biasanya menyebabkan nyeri, dimana daerah post aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema. Dan pembentukan kolestaetoma pada  mastoiditis akut bila tidak segera ditangani, kolestaetoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralisis nervus fasialis, kehilngan pendengaran sensorineural dan atau gangguan keseimbangan (akibat erosi telinga dalam), dan abses otak.

 

2.3.4   Pemeriksaan Diagnostik Mastoiditis

  1. a.    CT scan

Mendiagnosis kelainan telinga tengah, mastoid dan telinga dalam. Biasanya memperlihatkan penebalan mukosa dalam rongga telinga tengah di samping dalam rongga mastoid.

  1. b.   Pemeriksaan radiologis

Mengetahui adanya apasifikasi sel-sel udara mastoid oleh cairan dan hilangnya trabekulasi normal dan sel-sel tersebut.

 

2.3.5   Penatalaksanaan Mastoiditis

  1. Pengobatan radang mastoid dengan antibiotic intravena seperti pennisilin, cefriaxone (rhocepin), dan metronidazole (flogil) selama 14 hari.
  2. Jika pasien tidak membaik dengan antibiotic maka dilakukan operasi mastoidektomy. Tindakan ini untuk menghilangkan sel – sel tulang mastoid yang terinfeksi dan untuk mengalirkan nanah. Beberapa struktur telinga bagian tengah (inkus dan maleus) mungkin perlu dipotong.
  3. Tympanoplasty yang merupakan pembedahan rekonstruksi telinga bagian tengah untuk memelihara pendengaran.

 

2.3.6   Komplikasi Mastoiditis

Komplikasi mastoiditis meliputi kerusakan di abducens dan syaraf-syaraf kranial wajah (syaraf-syaraf kranial VI dan VII), menurunnya kemampuan klien untuk melihat ke arah sam-ping/lateral (syaraf kranial VI) dan menyebabkan mulut mencong, seolah-olah ke samping (syaraf kranial VII). Komplikasi-komplikasi lain meliputi vertigo, meningitis, abses otak, otitis media purulen yang kronis dan luka infeksi (Thane, 1993).

 

2.3.7   Prognosis Mastoiditas

Pengobatan yang adekuat akan memberikan penyembuhan yang optimal. Prognosis pasien baik selama belum terjadi komplikasi ke intrakranial. Pada kasus dengan komplikasi intrakranial dibutukan penatalaksanaan yang lebih komprehensif.

 

2.3.8    Patofisiologi Mastoiditis

Mastoiditis disebabkan menyebarnya infeksi dari telinga bagian tengah. Infeksi dan nanah mengumpul di sel-sel udara mastoid. Umumnya ini jarang terjadi karena otitis media didiagnosis dan diobati pada tahap awal. Tetapi dengan berulangnya infeksi telinga bagian tengah, infeksi dapat menyebar ke mastoid. Mastoiditis dapat terjadi 2-3 minggu setelah otitis media akut (Reeves, 1999).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3.9   WOC Mastoiditis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

PROSES KEPERAWATAN

 

3.1.       PROSES KEPERAWATAN OTITIS MEDIA

3.1.1 Pengkajian

1.    Pengumpulan Data

  1. Identitas Pasien : Nama pasien, umur, suku/bangsa, agama, pendidikan,   pekerjaan, alamat
  2. Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat adanya kelainan nyeri pada telinga, penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga
  3. Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat infeksi saluran atas yang berulang, riwayat alergi, riwayat OMA berkurang, riwayat penggunaan obat( sterptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin ), riwayat operasi
  4. Riwayat penyakit keluarga : Apakah keluarga klien pernah mengalami penyakit telinga, sebab dimungkinkan OMK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetic

 

2.   Pengkajian Persistem

  1. Keadaan umum  :Suhu meningkat, keluarnya otore
  2. B1 (Breath)        : -
  3. B2 ( Blood )       :Nadi meningkat
    1. B3 (Brain)          :Nyeri telinga, pendengaran menurun, vertigo, pusing, refleks kejut
    2. B4 (Bladder)      : -
    3. B5 (Bowel)        :Nausea vomiting
    4. B6 (Bone)          :Malaise, alergi

 

3.  Pengkajian Psikososial

  1. Nyeri otore berpengaruh pada interaksi
    1. Aktivitas terbatas
    2. Takut menghadapi tindakan pembedahan

 

4.  Pemeriksaan diagnostik

  1. Tes audiometri : pendengaran menurun
    1. Xray : terhadap kondisi patologi, misal kolestetoma, kekaburan mastoid

 

5.   Pemeriksaan pendengaran

  1. Tes suara bisikan
  2. Tes garputala

 

 

3.1.2                                                                                                        Diagnosa Keperawatan

  1. Nyeri berhubungan dengan proses peradangan
    1. Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran
    2. Perubahan persepsi sensori pendengaran berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran
    3. Resiko cidera berhubungan dengan penurunan pendengaran, penurunan tajam penglihatan.
    4. Ansietas berhubungan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi, nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi.
    5. Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri , otore berbau busuk
      1. Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan, proses penyakit dan pencegahan kekambuhan

 

3.1.3                                                                                                        Intervensi dan Rasional

  1. 1.    Nyeri berhubungan dengan proses peradangan

Tujuan :

Nyeri yang dirasakan klien berkurang

Kriteria hasil :

  1. Klien mengungkapkan bahwa nyeri berkurang
  2. Klien mampu melakukan metode pengalihan suasana

Intervensi :

Intervensi Rasional
Ajarkan klien untuk mengalihkan suasana dengan melakukan metode relaksasi saat nyeri yang teramat sangat muncul, relaksasi seperti menarik napas panjang Metode pengalihan suasana dengan melakukan relaksasi bisa mengurangi nyeri yang diderita klien
Kompres dingin di sekitar area telinga Kompres dingin bertujuan mengurangi nyeri karena rasa nyeri teralihkan oleh rasa dingin di sekitar area telinga
Atur posisi klien Posisi yang sesuai akan membuat klien merasa nyaman
Untuk kolaborasi, beri aspirin/analgesik sesuai instruksi, beri sedatif sesuai indikasi Analgesik merupakan pereda nyeri yang efektif pada pasien untuk  mengurangi sensasi nyeri dari dalam

 

  1. 2.      Gangguan komunikasi berhubungan dengan efek kehilangan pendengaran

Tujuan :

Gangguan komunikasi berkurang / hilang

Kriteria hasil :

  1. Klien memakai alat bantu dengar ( jika sesuai)
  2. Klien menerima pesan melalui metode pilihan (misal: komunikasi lisan, bahasa lambang, berbicara dengan jelas pada telinga yang baik)

Intervensi :

Intervensi Rasional
Identifikasi metode komunikasi yang diinginkan klien dan catat pada rencana perawatan metode, seperti : tulisan, berbicara, bahasa isyarat. Dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan oleh klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan klien
Pantau kemampuan klien untuk menerima pesan secara verbal.

  1. Jika ia dapat mendengar pada satu telinga, berbicara dengan perlahan dan jelas langsung ke telinga yang baik

-        Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu

-        Dekati klien dari sisi telinga yang baik

  1. Jika klien dapat membaca ucapan:

-        Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas

-        Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klien tidak dapat membaca bibir anda

  1. Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien

-        Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan komunikasi tertulis

-        Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya

  1. Jika klien hanya mampu berbahasa isyarat, sediakan penerjemah. Alamatkan semua komunikasi pada klien, tidak kepada penerjemah. Jadi seolah-olah perawat sendiri yang langsung berbicara pada klien dengan mengabaikan keberadaan penerjemah
Pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat diterima dengan baik oleh klien.
Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman

  1. Bicara dengan jelas menghadap individu
  2. Ulangi jika kilen tidak memahami seluruh isi pembicaraan
  3. Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi
  4. Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaan yang memerlukan jawaban lebih dair ya dan tidak
Memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan klien dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan perawat secara tepat.

 

 

  1. Perubahan persepsi sensori pendengaran berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau kerusakan di syaraf pendengaran

Tujuan :

Persepsi / sensori baik

Kriteria hasil :

Klien akan mengalami peningkatan persepsi / sensoris pendengaran sampai pada tingkat fungsional

Intervensi:

Intervensi Rasional
Ajarkan klien menggunakan dan merawat alat pendengaran secara tepat Keefektifan alat pendengaran tergantung pada tipe gangguan / ketulian, pemakaian serta perawatannya yang tepat.
Instruksikan klien untuk menggunakan teknik-teknik yang aman sehingga dapat mencegah terjadinya ketulian lebih jauh Apabila penyebab pokok ketulian tidak progresif, maka pendengaran yang tersisa sensitif terhadap trauma dan infeksi sehingga harus dilindungi
Observasi tanda-tanda awal kehilangan pendengaran yang lanjut Diagnosa dini terhadap keadaan telinga atau terhadap masalah-masalah pendengaran rusak secara permanen
Instruksikan klien untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik ( baik itu antibiotik sistemik maupun lokal ) Penghentian terapi antibiotika sebelum waktunya dapat menyebabkan organisme sisa berkembang biak sehingga infeksi akan berlanjut

 

  1. Resiko cidera b.d. penurunan pendengaran, penurunan tajam penglihatan.

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan tidak terjadi cidera

Kriteria Hasil  :

Pasien tidak mengalami cidera fisik

Intervensi :

Intervensi Rasional
Cegah infeksi telinga berlebih Agar kerusakan penedengaran tidak meluas
Meminimalkan tingkat kebisingan di unit perawatan intensif Berhubungan dengan kehilangan pendengaran
Lakukan upaya keamanan seperti ambulasi terbimbing Untuk mencegah pasien jatuh akibat gangguan keseimbangan
Kolaborasi dengan pemberian obat antiemetika Mengurangi nyeri kepala sehingga terhindar dari jatuh

 

  1. 5.      Ansietasberhubungan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi, nyeri, hilangnya fungs

Artikel:

woc trauma ginjal, woc ca buli, skema woc mastoiditis, woc mastoiditis, askep oma, makalah omsk, askep post op mastoid, lp mastoiditis, Laporan pendahuluan OMK, askep dan pathway Mastoiditis, makalahkomunikasi asuhan keperawatan pada anak, askep omsk nanda nic noc, askep dan woc letak lintang, askep OMK, askep OMSk mnrt nicnoc, makalah askep mastoiditis, askep omsk nanda, makalah osteomyelitis, mastoiditis jurnal, paktor predisposisi omk, pathway ASKEP PENYAKIT OMA, pathway PENYAKIT OMA, askep NIC NOC abses mastoid, askep pasien dengan otitis dan contoh kasusnya, Laporan pendahuluan OMSK SENISTRA lengkap askepnya, askep post op mastoidektomi, asuhan keperawatan mastoiditis aplikasi nanda, asuhan keperawatan NOC dan NIC abses mastoid, asuhan keperawatan pada kasus post op omsk malgina, contoh askep resiko infeksi abses mastoid, contoh kasus askep otitis media akut NIC NOC, askep otitis media kronik mnrt nicnoc, diagnosa nanda nic noc untuk askep mastoid, diagnosa nanda nic noc untuk askep oma, LAPORAN PENDAHULUAN MASTOIDITIS, askep otitis media akuta atau oma, diagnosa keperawatan oma dan omk
 

Suka artikel ini, Bagikan dengan teman-teman kamu!

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
rss feed bookmar
   
 photo banner300x250.gif
 photo rambutsambungcom300X250.gif

Archives

Categories

Dilihat Terakhir:

Online Visitor