Asuhan Keperawatan Ca Rektum | Kumpulan Asuhan Keperawatan

Asuhan Keperawatan Ca Rektum

December 1st, 2011 0 Comments

header12

header12

header12

PREVIEW VIDEO ISI DVD KEPERAWATAN

header12

header12

header12

ASUHAN KEPERAWATAN CA REKTUM
TUMOR REKTUM
A. Pengertian
Tumor adalah gembung bengkak sebagai akibat radang, cidera, neoplasma, oedema (Ramali, 2000).
Tumor adalah massa padat, besar, meninggi dan berukuran lebih dari 2 cm (Corwin, 2000).
Tumor merupakan pertumbuhan sel-sel baru (neoplasma), dimana pembelahan sel atau mitosis tidak terkendali oleh tubuh dan tidak memiliki fungsi yang berguna bagi tubuh (Handerson, 1997).
Tumor adalah sel tubuh yang mengalami perubahan (transformasi), sehingga sifat dan kinetiknya berubah sehingga tumbuhnya menjadi autonom liar, tidak terkendali dan terlepas dari koordinasi pertumbuhan normal (Sukardja, 2000).
Menurut Ramali (2000) rectum adalah ujung usus besar sebagai lanjutan usus besar sigmoid (colon sigmoideum) sampai ke dubur.
Menurut Ramali (2000) biopsy adalah pengambilan jaringan dari penderita saraf bedah untuk pemeriksaan mikroskopik.
Menurut Ramali (2000) post berarti awalan yang berarti sesudah, kemudian.
Menurut Sjamsuhidajat (1997) menyatakan kolostomi adalah merupakan kolokutaneostomi yang disebut juga anus preternaturalis yang dibuat untuk sementara atau menetap.
Menurut Ramali (2000) colostomy adalah pembuatan mulut colon antefisial melalui pembedahan dengan menjahitkan dinding usus besar kepada dinding depan perut lalu menorehnya.
Dari pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa Colostomy Post Biopsy Tumor Rectum adalah suatu pembuatan colon antefisial melalui pembedahan dengan menjahitkan dinding usus besar kepada dinding depan perut lalu menorehnya dengan indikasi dilakukannya pengambilan jaringan massa padat besar lebih dari 2 cm di daerah poros usus untuk pemeriksaan mikroskopik.
B. Etiologi
Menurut Sabiston (1995) mengatakan penyebab tumor sulit diketahui. Faktor yang mendukung adanya genetika usia, jenis kelamin, respon kekebalan, virus.
Menurut Ester (2001) mengatakan faktor-faktor pencetusnya adalah hereditas, masukan lemak, penyakit inflamasi usus dan homoseksualitas.
Menurut Sukardja (2000) faktor yang mempengaruhi kecepatan tumbuh tumor adalah:
1. Faktor penderita
a. Umur
Pada anak-anak tumbuh dengan cepat
b. Jenis Kelamin
Beberapa jenis tumor pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon.
c. Penyakit
Beberapa penyakit tertentu dapat mempengaruhi kecepatan tumbuh tumor seperti pada diabetes.
2. Faktor tumor
a. Jenis tumor
Jenis tumor umumnya disebut berdasarkan nama organ tempat tumor itu pertama kali tumbuh.
b. Asal sel tumor
Asal sel dapat dari jaringan epitel, jaringan mesenchim, jaringan embrional atau campuran.
c. Sifat tumor
1) Tumor jinak : Tumbuh pelan-pelan dalam waktu tahunan.
2) Tumor insitu : Umumnya tumbuh dengan pelan sampai mencapai stadium invasif.
3) Tumor ganas : Tumbuh dengan cepat dalam waktu bulanan.
4) Tumor yang sifatnya tidak tentu atau tidak jelas.
d. Derajat kegawatan/keganasan
Derajat I : - Derajat keganasan rendah
- Kanker tumbuh pelan-pelan
- Waktu tahunan dan lambat mengadakan metastase
Derajat II : - Derajat keganasan sedang
- Kecepatan tumbuh biasa-biasa saja, antara kecepatan pada derajat keganasan rendah dan tinggi dalam waktu bulanan.
Derajat III : - Derajat keganasan tinggi
- Kanker tumbuh cepat dalam waktu mingguan atau bulanan dan cepat mengadakan metastase
3. Faktor lingkungan
a. Ruang tempat tumbuh
Dibatasi oleh barier alamiah tumbuh seperti fascia, periosteum, rongga tubuh dan sebagainya yang akan membatasi besar dan kepadatan jaringan.
b. Pasokan darah
Tumor masih cukup mendapat makanan dari perfusi darah normal yang telah ada bila tumor tumbuh dengan cepat dan telah besar dan memerlukan pembuluh darah terdiri untuk memasok makanan, oksigen dan membuang sampahnya.
c. Penyakit-penyakit tertentu
Pada penyakit-penyakit tertentu seperti diabetes.
(Sukardja, 2000, hal 79 – 82)
C. Patofisiologi
Secara klinik tumor dibedakan atas golongan neoplasma misalnya kista, radang atau hipertropi. Neoplasma dapat bersifat ganas atau jinak, neoplasma atau kanker terjadi karena timbul dan berkembangbiaknya jaringan sekitarnya (infiltratif) sambil merusaknya (destruktif) dapat menyebar ke bagian lain tubuh. Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak tetapi membesar dan menekan jaringan sekitarnya (ekspansi) dan umumnya tidak bermetastasis.
Kira-kira 60% sampai dengan 70% tumor terjadi pada rectum, area rektosigmoid atau kolonsigmoid. Tipe pertumbuhan tergantung pada daerah asal, karsinoma di sisi kiri cenderung tumbuh mengitari usus, mengelilinginya dan menimbulkan massa bulk, polipoid dan berjamur. Mayoritas kanker ini adalah adenokarsinoma, tipe lain masuk menembus usus dan menyebabkan abses, peritonitis, invasi organ sekitarnya dan perdarahan. Tumor-tumor ini cenderung tumbuh dengan lambat dan tetap asimtomatik untuk periode waktu yang lama (Ester, 2000, hal 134).
Tumor rectum memerlukan reseksi abdominal-perineal, dengan pembentukan kolostomi permanen atau ujung kolostomi kolon yang terkena dan seluruh rectum dieksisi dan anus ditutup. Teknik pembedahan terbaru memungkinkan tumor sigmoid diangkat dengan meninggalkan sfingter utuh, ini memungkinkan eliminasi usus dipertahankan (Engram, 1998, hal 136).
D. Pathways Keperawatan
E. Manifestasi Klinik dan Pemeriksaan Penunjang
Menurut Sukardja (2000) keadaan umum dan penampilan penderita umumnya baik. Keluhan penderita dengan tumor non neoplasma dapat berupa:
1. Tumor
2. Tekanan atau desakan oleh tumor
3. Obstruksi saluran tubuh
4. Perdarahan
5. Gangguan hormon
Menurut Ester (2000) manifestasi klinik tumor rectum adalah:
1. Konstipasi
2. Diare
3. Melena
4. Kelemahan fisik
5. Malaise
6. Penurunan berat badan
Sedangkan pemeriksaan penunjang pada tumor rectum menurut Sukardja (2000) adalah:
1. Pemeriksaan makroskopik
2. Pemeriksaan histologik
3. Biopsy
4. Pemeriksaan darah tepi
5. Pemeriksaan hormon dan enzim
6. Pemeriksaan sitologi
F. Fokus Keperawatan
1. Data dasar pengkajian pasien menurut Doengoes (1999, hal 997 – 999) adalah:
a. Aktivitas/istirahat
Gejala:
1) Kelemahan atau keletihan
2) Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur.
b. Sirkulasi
Gejala:
1) Palpitasi, nyeri dada pada pergerakan kerja
2) Perubahan pada tekanan darah
c. Integritas ego
Gejala:
1) Faktor stress dan cara mengatasi stress
2) Masalah tentang perubahan dalam penampilan
3) Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya
Tanda:
Menyangkal, menarik diri, marah
d. Eliminasi
Gejala:
1) Perubahan pada pola defekasi
2) Perubahan eliminasi urinarius
Tanda:
Perubahan pada bising usus, distensi abdomen
e. Makanan/cairan
Gejala:
1) Kebiasaan diit buruk
2) Anoreksia
3) Intoleransi aktivitas
4) Perubahan pada berat badan
Tanda:
Perubahan pada kelembaban/turgor kulit, oedema
f. Neurosensori
Gejala:
Pusing, sinkope
g. Nyeri/kenyamanan
Gejala:
Tidak ada nyeri atau derajat bervariasi
h. Pernapasan
Gejala:
Merokok
i. Keamanan
Gejala:
1) Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen
2) Pemajanan matahari lama
Tanda:
1) Demam
2) Ruam kulit, ulserasi
j. Seksualitas
Gejala:
1) Masalah seksual
2) Pasangan seks multiple
k. Interaksi sosial
Gejala:
1) Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung
2) Riwayat perkawinan
l. Penyuluhan/pembelajaran
1) Riwayat kanker pada keluarga
2) Riwayat pengobatan
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien Colostomy Post Biopsy Tumor Rectum, penulis mengambil literatur diagnosa keperawatan Doengoes (2000) maka diagnosa aktual dan potensial yang mungkin muncul adalah sebagai berikut:
a. Nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada kulit.
c. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri.
d. Kurang pengetahuan tentang kondisi/situasi, prognosis, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi.
3. Perencanaan Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan tindakan pembedahan
Tujuan : Melaporkan nyeri berkurang/terkontrol, menunjukkan ekspresi wajah rileks.
Rencana tindakan :
1) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, intensitas (skala 0 – 10)
Rasional : Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan penyembuhan. Perubahan pada karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya infeksi, memerlukan upaya evaluasi medik dan intervensi.
2) Berikan tindakan kenyamanan
Rasional : Meningkatkan relaksasi, menurunkan ketegangan otot dan kelelahan umum.
3) Ubah posisi dengan sering dan rentang gerak pasif dan aktif
Rasional : Gerakan dan latihan menurunkan kekakuan sendi dan kelelahan otot.
4) Motivasi ekspresikan perasaan nyeri
Rasional : Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping.
b. Kerusakan integritas kulit berhubungan interupsi mekanis pada kulit
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka.
Rencana tindakan :
1) Berikan penguatan balutan awal/penggantian sesuai indikasi
Rasional : Lindungi luka dari perlukaan mekanis dan kontaminasi.
2) Lepaskan perekat (sesuai arah rambut) dan pembalut pada waktu mengganti
Rasional : Mengurangi resiko trauma kulit dan gangguan pada luka.
3) Gunakan perekat yang halus untuk menutup luka yang membutuhkan pergantian balutan yang sering
Rasional : Menurunkan resiko terjadinya trauma kulit dan memberikan perlindungan tambahan untuk kulit atau jaringan halus.
4) Kaji jumlah dan karakteristik cairan luka
Rasional : Menurunnya cairan menandakan adanya evolusi dari proses penyembuhan.
c. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
Tujuan : Menunjukkan keinginan berpartisipasi dalam aktivitas, mampu melakukan aktivitas.
Rencana tindakan :
1) Motivasi partisipasi pasien dalam aktivitas sesuai kemampuan individu
Rasional : Meningkatkan kemandirian.
2) Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh ketidaknyamanan
Rasional : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri tentang keterbatasan fisik, memerlukan intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan.
3) Bantu pasien dalam rentang gerak aktif/pasif
Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot untuk meningkatkan tonus otot.
d. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan/kulit yang rusak
Tujuan : Mengidentifikasi faktor resiko dan intervensi untuk mengurangi potensial infeksi.
Rencana tindakan :
1) Awasi tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi dan pernapasan cepat
Rasional : Pasien yang mengalami pembedahan beresiko untuk syok bedah atau septik sehubungan dengan manipulasi/ instrumentasi.
2) Lakukan pencucian tangan dan perawatan luka aseptik
Rasional : Menurunkan resiko penyebaran infeksi.
3) Observasi daerah luka operasi
Rasional : Adanya luka meningkatkan resiko untuk infeksi yang diindikasikan dengan eritema.
4) Ganti balutan dengan sering membersihkan dan mengeringkan kulit
Rasional : Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan media untuk pertumbuhan bakteri.
5) Berikan antibiotik
Rasional : Mungkin diberikan secara provilaktif atau menurunkan jumlah organisme untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhannya.
e. Kurang pengetahuan tentang kondisi/situasi, prognosis, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
Tujuan : Mengatakan pemahaman proses penyakit dan pengobatan, melakukan pola hidup dan berpartisipasi pada program pengobatan.
Rencana tindakan :
1) Kaji proses penyakit, prosedur pembedahan dan harapan yang akan datang
Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
2) Diskusikan perlunya keseimbangan kesehatan, nutrisi dan pemasukan cairan yang adekuat
Rasional : Memberikan nutrisi optimal dan mempertahankan volume sirkulasi untuk meningkatkan regenerasi jaringan/proses penyembuhan.
3) Tinjau ulang untuk menunjukkan perawatan luka/balutan
Rasional : Meningkatkan kompetensi perawatan diri dan meningkatkan kemandirian.
4) Rekomendasi rencana/latihan progresif
Rasional : Meningkatkan pengembalian ke fungsi normal dan meningkatkan perasaan sehat.
 

Suka artikel ini, Bagikan dengan teman-teman kamu!

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
rss feed bookmar
   
 photo banner300x250.gif
 photo rambutsambungcom300X250.gif

Archives

Categories

Dilihat Terakhir:

Online Visitor