Askep Jiwa Perilaku Kekerasan | Kumpulan Asuhan Keperawatan

Askep Jiwa Perilaku Kekerasan

November 22nd, 2011 0 Comments

header12

header12

header12

PREVIEW VIDEO ISI DVD KEPERAWATAN

header12

header12

header12

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PERILAKU KEKERASAN
A. Masalah utama: Perilaku Kekerasan
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Pengertian
Tindakan kekerasan merupakan agresi fisik dari seseorang terhadap orang lain. (kapplan dan saddock,1998)
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan yang dapat membahayakan secara fisik. Baik kepada diri sendiri ataupun orang lain. (Marry E Townsend,1998)
Perilaku menyerang (fight) adalah reaksi yang ditampilkan individu dalam menghadapi masalah, dapat bersifat konstruktif ataupun destruktif (rasmun,2001)
Perilaku kekerasan adalah suatu tindakan yang merespon terhadap stimulus, dimana bisa membayakan diri sendiri atau orang lain.
2. tanda dan gejala.
Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, pendebat, merampas makanan, memukul jika merasa tidak senang. (Kelliat,BA 1998)
3. Penyebab.

Perilaku kekerasan bisa disebabkan oleh gangguan konsep diri: harga diri rendah, adalah malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, merendahkan martabat, gangguan hubungan social, menarik diri, rasa percaya diri yang kurang.
Tanda dan gejala tidak efektifnya penatalaksanaan regimen  terapeutik
Tanda dan gejala tidak efektifnya penatalaksanaan regimen terapetik adalah pasien tidak mau control, minum obat tidak teratur, dank lien tidak dilibatkan dalam interaksi keluarga.
4. Akibat terjadinya masalah.
Akibat dari masalah perilaku kekerasan adalah resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Tanda dan gejalanya adalah mengepalkan tangan, merusak benda-benda disekitarnya. Postur yang kaku, Peningkatan aktivitas motorik , mondar-mandir, dan mudah marah.( Harry C. Townsend. 1998)
5. Rentang Respon perilaku kekerasan 
C. Pohon Masalah.
Akibat resiko menciderai diri sendiri , orang lain dan lingkungan
Masalah utama
      
      Penyebab Gangguan konsep diri: harga diri rendah
D. masalah  keperawatan dan data yang perlu dikaji
1. Resiko menciderai diri sendiri , orang lain dan lingkungan.
Data subjektif:
Klien mengatakan akan memukul orang lain atau dirinya sendiri dan mengancam orang lain.
Data objektif:
Mengepalkan tangan, merusak benda di sekitar, peningkatan aktifitas motorik, mondar-mandir dan mudah marah.
2. perilaku kekerasan.
Ds: klien mengatakan kesal dengan orang lain.
Do: muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, memukul.
3. Gangguan konsep diri: harga diri rendah.
Ds: klien mengatakan malu terhadap diri sendiri, merasa bersalah terhadap diri sendiri.
Do: menarik diri, percaya diri kurang, kontak mata kurang dan mencederai diri.
E. Diagnosa keperawatan.
1. resiko menciderai diri,orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.
TUM:
Klien tidak menciderai diri, orang lain dan lingkungan.
TUK 1.
Klien dapat membina hubungan saling percaya.
kriteria evaluasi:
ekspresi wajah bersahabat, menunjukan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama.
Intervensi:
Berikan salam,panggil nama
Sebutkan nama perawat sambil jabat tangan
Jelaskan maksud hubungan interaksi
Jelaskan tentang kontrak yang akan dibahas
Beri rasa aman dan sikap empati
TUK 2:
Klien dapat mengidentifikasi kemampuan penyebab kekerasan
Kriteria evaluasi:
Klien mengungkapkan perasaannya
Klien dapat mengungkapkan penyebab perasaan jengkel/kesal(dari diri sendiri,orang lain,dan lingkungan)
Intervensi:
Berikan kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya
Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel/ kesal.
TUK 3:
Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
Kriteria evaluasi:
Klien dapat mengungkapkan perasaan saat jengkel/marah
Intervensi:
Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal
Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien
Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel/kesal yang dialami klien
TUK 4:
Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
Kriteria evaluasi:
Klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
Klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
Klien dapat mengetahui cara yang biasa dapat mengatasi masalah
Intervensi:
Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan  yang biasa dilakukan klien
Bantu klien bermain pera sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
Bicarakan dengan klien, apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai.
TUK 5:
Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
Kriteria evaluasi:
Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien
Bersama klien menyimpulkan akibat cara yang digunakan oleh klien
Tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat
TUK 6:
Klien dapat mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan
Kriteria evaluasi:
6.1. klien dapat menyebutkan contoh pencegahan perilaku kekerasan  secara fisik: Tarik nafas dalam
Pukul bantal dan kasur
Kegiatan fisik,dll.
6.2. klien dapat mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan
Intervensi:
6.1.1. Diskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
6.1.2. Beri pujian atas kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
6.1.3. Diskusikan dua cara fisik yang mudah dilakukan untuk mencegah perilaku   kekerasan yaitu tarik nafas dalam dan pukul bantal dan kasur.
6.2.1. Dixkusikan melakukan tarikan nafas dalam dengan klien. 
6.2.2. beri contoh kepada klien tentang cara menarik nafas dalam.
6.2.3. Minta klien untuk mengikuti contoh yang diberikan sebanyak 5 kali.
6.2.4. Beri pujian positif atas kemampuan klien mendemonstrasikan cara menarik nafas dalam
6.2.5. Tanyakan perasaan klien setelah selesai.
6.2.6. Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah di pelajari saat marah atau jenkel.
6.2.7. Lakukan hal yang sama dengan 6.1. sampai dengan 6.2.1. untuk cara fisik yang lain.
Rasional:
Dengan mengidentifikasi cara fisik yang konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan dapat membantu klien menemukan cara yang baik untuk mengurangi kejengkelan. 
TUK 7 : 
Klien dapat mendemonstrasikan cara social untuk mencegah perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi: 
Klien dapat menyebutkan cara bicara (verbal) yang baik dalam mencegah perilaku kekerasan: 
Meminta dengan baik
Menolak dengan baik.
Mengungkapkan perasaan dengan baik
Klien dapat mendemonstrasikan cara verbal yang baik.
Intervensi:
Diskusikan cara bicara yang baik dengan klien
Beri contoh cara bicara yang baik:
Meminta dengan baik
Menolak dengan baik
Mengungkapkan perasaan dengan baik
Minta klien mengikuti contoh cara bicara yang baik
Meminta dengan baik “ saya minta anda jangan bicara seperti itu”
Menolak dengan baik “maaf, saya tidak dapat melakukan karena ada kegiatan lain”.
Mengungkapkan perasaan dengan baik “saya kesal karena pendapat saya tidak dipedulikan bapakdisertai nada suara yang rendah.
Minta klien untuk mengulangi sendiri
Beri pujian atas keberhasilan klien
Rasional:
Dengan mengidentifikasi cara social dalam berespon terhadap kemarahan dapat membantu klien menemukan cara yang baik untuk mengurangi kejengkelan.
TUK 8:
Klien dapat mendemonstrasikan cara spiritual untuk mencegah perilaku kekerasan 
Kriteria evaluasi:
Klien dapat menyebutkan kegiatan ibadah yang biasa dilakukan 
Klien dapat mendemonstrasikan cara ibadah yang dipilih
Klien mempunyai jadwal untuk melatih kegiatan ibadah
Intervensi:
Diskusikan dengan klien kegiatan ibadah yang pernah dilakukan
Bantu klien menilai kegiatan ibadah yang dapat dilakukan diruang rawat.
Bantu klien memilih kegiatan ibadah yang akan dilakukan.
Minta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang dipilih
Beri pujian atas keberhasilan klien
Diskusikan dengan klien tentang waktu pelaksanaan  kegiatan ibadah.
Susun jadwal kegiatan untuk melatih kegiatan ibadah.
Rasional: 
Dengan mengidentifikasi cara spiritual dalam berespon terhadap kemarahan dapat membantu klien menemukan cara yang baik untuk mengurangi kejengkelan.
TUK 9: 
Klien dapat mendemonstrasikan kepatuhan minim obat untuk mencegah perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi  
Klien dapat menyebutkan jenis, dosis, dan waktu minum obat serta manfaat dari obat ( prinsip 5 benar : benar orang, obat, dosis, waktu dan cara pemberian
Klien mendemonstrasikan kepatuhan minum obat, sesuai jadwal yang ditetapkan intervensi:
Diskusikan dengan klien tentang jenis obat yang diminumnya ( nama,warna dan besarnya) waktu minum obat, cara minum obat.
Diskusikan dengan klien tentang manfaat minum obat secara teratur.
Beda perasaan sebelum minum obat dan sesudah minum obat.
Jelaskan bahwa dosis hanya boleh dirubah oleh dokter.
Jelaskan akibat minum obat yang tidak teratur, misalnya penyakitnya akan kambuh lagi.
Diskusikan tentang proses minum obat: 
Klien meminta obat pada perawat ( jika di RS) kepada keluarga (jika dirumah)
Klien memeriksa obat sesuai dosisnya.
Klien meminum obat pada waktu yang tepat.
Susun jadwal minum obat bersama klien.
Rasional: 
Klien dapat mengetahui nama obat, kegunaan obat, prinsip benar obat, kesadaran pentingnya minum obat.
TUK 10
Klien dapat mengikuti TAK : stimulasi persepsi pencegahan perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi:
Klien mengikuti TAK : stimulasi persepsi pencegahan perilaku kekerasan.
Klien mempunyai jadwal TAK: stimulasi persepsi pencegahan perilaku kekerasan.
Klien melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan TAK.
Intervensi; 
Anjurkan klien untuk ikut TAK: stimulasi persepsi pencegahan perilaku kekerasan
Klien mengikuti TAK:

Artikel:

prilaku kekerasan materi penkes, tak stimulus sensori askep perilaku kekerasan
 

Suka artikel ini, Bagikan dengan teman-teman kamu!

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
rss feed bookmar
   
 photo banner300x250.gif
 photo rambutsambungcom300X250.gif

Archives

Categories

Online Visitor