Askep Anak Tuberculosis Paru | Kumpulan Asuhan Keperawatan

Askep Anak Tuberculosis Paru

November 24th, 2011 0 Comments

header12

header12

header12

PREVIEW VIDEO ISI DVD KEPERAWATAN

header12

header12

header12

ASUHAN KEPERAWATAN 
ANAK DENGAN TUBERCULOSIS PARU
A. Pengertian
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang dapat menyerang berbagai organ tubuh manusia seperti paru, ginjal, kelenjar getah bening, selaput jantung, selaput otak usus, dan lain-lain, tetapi yang paling banyak adalah organ paru. (Bahar,2001). Seseorang disebut penderita tuberculosis paru jika kuman M.Tuberculosis menyerang paru.
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi pada paru yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosa, yaitu suatu bakteri tahan asam. (Suriadi,2001)
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh M.Tuberculosis yang biasanya ditularkan dari orang ke orang melalui nuclei droplet lewat udara. (Netina,2002).
B. Pathofisiologi dan pathway
Masuknya kuman .tuberculosis kedalam tubuh tidak selalu menimbulkan penyakit infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya kuman tuberculosis serta daya tahan tubuh.

Segera setelah menghirup basil tuberculosis hidup kedalam paru-paru, maka terjadi eksudasi  dan konsolidasi yang terbatas disebut focus primer. Basil tuberculosis akan menyebar , histosit mulai mengengkut organisme tersebut ke kelenjar limfe regional melalui saluran getah bening menuju ke kelenjar regional sehingga terbentuk komplek primer dan mengadakan reaksi eksudasi terjadi sekitar 2-10 minggu pasca infeksi.
Bersamaan dengan terbentuknya komplek primer terjadi pula hypersensitivitas terhadap tuberkuloprotein yang dapat diketahui melalui uji tuberkuli. Masa terjadinya infeksi sampai terbentuknya kompleks primer disebut masa inkubasi.
Pada anak yang lesi, dalam paru dapat terjadi dimanapun terutama diperifer dekat pleura, tetapi lebih banyak terjadi di lapangan bawah  paru dibanding dengan lapangan atas. Juga terdapat pembesaran kelenjar regional serta penyembuhanya mengarah kekalsifikasi dan penyebaranya lebih banyak terjadi melalui hematogen.
Pada reaksi radang dimana leukosit polimorfonuklear tampak pada alveoli dan memfagosit  bakteri namun tidak membunuhnya. Kemudian basil menyebar kelimfe dan sirkulasi. Dalam beberapa minggu limfosit T menjadi sensitive terhadap organisme TBC dan membebaskan limfokin yang merubah makrofag atau mengaktifkan makrofag.  Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumoni akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa nekrosis yang tertinggal, atau proses dapat berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak dalam sel.makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkelepiteloid yang dikelilingi oleh limfosit. Nekrosis pada bagian sentral  lesi memberikan gambaran yang relatif  padat, seperti keju yang disebut nekrosis kaseosa.
Terdapat 3 macam penyebaran secara pathogen pada tuberculosis anak ; penyebaran hematogen tersembunyi yang kemudian mungkin timbul gejala atau tanpa gejala klinis , penyebaran hematogen umum, penyebaran millier, biasanya terjadi sekaligus  dan menimbulkan gejala akut, kadang-kadang kronis, penyebaran hematogen berulang.
Pathway 
C. Manifestasi klinis
Demam , malaise, anoreksia,  berat badan menurun, kadang-kadang batuk ( Batuk tidak selalu ada , menurun  sejalan dengan lamanya penyakit), nyeri dada, hemoptisis.
Gejala lanjut ( jaringan paru-paru sudah banyak yang rusak) : pucat, anemia, lemah, dan berat bada menurun.
Permulaan tuberculosis primer biasanya sukar diketahui secara klinis karena mulainya penyakit secara berlahan. Kadang tuberculosis ditemukan pada nak tanpa gejala atau keluhan . tetapi secara rutin dengan uji tuiberkulin  dapat ditemukan penyakit tersebut. Gejala tuberculosis primer dapat berupa demam yang naik turun selama 1-2 minggu, dengan atau tanpa batuk pilek. Gambaran klinisnya; demam, batuk, anoreksia, dan berat badan menurun.
D. KOMPLIKASI
Meningitis
Spondilitis
Pleuritis
Brokhopneumoni
Ateletaksis
E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Tes tuberculin : reaksi tes positif ( Diameter = 5) menunjukan adanta infeksi primer
Radiologi : terdapat kompleks primer dengan atau tanpa perkapuran, pembesaran kelenjar paratrakheal, penyebaran millier, penyebaran bronkogen, pleuritis dengan efusi.
Kultur sputum : ditemukan basil tuberculosis.
Patologi Anatomi : dilakukan pada kelenjar getah bening, hepar pleura, peritoneum, kulit ditemukan tuberkel dan basil tahan asam.
Uji BCG : reaksi positif jika setelah mendapat suntikan BCG langsung terdapat reaksi lokalyang besar dalam waktu kurang dari 8 hari setelah penyuntikan.
Infeksi TB : hanya diperlihatkan oleh skin tes  tuberculin positif.
Penyakit TB : gambaran radiology positif, kultur sputum positif, dan adanya gejala-gejala penyakit.
F. PENATALAKSANAAN 
1) Nutrisi adekuat
2) Medik
- INH 
- Rifampicin
- Pyrazinamid
- Streptomycin injeksi
- Pyrazinamid
- Ethambutol
- Kortikosteroid
3) Pembedahan, jika kemotherapi tidak berhasil
4) Pencegahan; menghindari kontak dengan yang terinfeksi  basil tuberculosis, mempertahankan status kesehatanya  , pemberian imunisasi BCG.
KONSEP KEPERAWATAN
A  Pengkajian
- Riwayat keperawatan : riwayat kontak dengan individu yang terinfeksi, penyakit yang pernah diderita sebelumnya.
- Kaji adanya gejala-gejala panas yang naik turun dan dalam jangka waktu yang lam, batuk yang hilang timbul, anoreksia, lesu, kurang nafsu makan, hemoptysis
B. Diagnosa keperawatan
1.   Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan jaringan paru
Tujuan : Meningkatkan pertukaran gas yang adekuat
Intervensi :
Monitor tanda-tanda vital
Observasi adanya sianosis pada mulut
Kaji irama, kedalaman, dan ekspansi pernafasan
Lakukan auskultasi suara nafas
Ajarkan cara bernafas efektif
Berikan oksigen sesuai indikasi
Monitor hasil analisa gas darah
2. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan adanya batuk, nyeri dada
Tujuan : Meningkatkan pola nafas yang efektif
Intervensi :
Kaji ulang status pernafasanya ( irama, kedalaman, , suara nafas , penggunaan otot Bantu pernafasan, bernafas melalui mulut)
Kaji ulang Tanda-tanda vital
Berikan posisi tidur semi fowler/fowler
Anjurkan untuk banyak minum
Berikan oksigen sesuai indikasi
3. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan adanya secret
Tujuan : Meningkatkan kepatenan jalan nafas
Intervensi :
Kaji ulang status pernafasanya ( irama, kedalaman, , suara nafas , penggunaan otot Bantu pernafasan, bernafas melalui mulut)
Kaji ulang Tanda-tanda vital
Berikan posisi tidur semi fowler/fowler
Anjurkan untuk banyak minum
Berikan oksigen sesuai indikasi
Berikan obat-obat yang dapat meningkatkan efektifnya jalan nafas seperti: bronkhodilator
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan  anoreksia.
Tujuan : Terpenuhinya kebutuhan nutrisi
Intervensi :
Kaji ketidakmampuan anak untuk makan
Berikan anak makanan yang disertai suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi
Kolaborasi untuk pemberian nutrisi parenteral jika kebutuhan nutrisi melalui oral tidak mencukupi
Kaji ulang berat badan, lingkar lengan , membran mukosaAnjurkan orang tua untuk memberikan makanan dengan porsi kecil tapi sering.
Pertahankan kebersihan mulut anak
Jelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit
5. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan
Tujuan : Suhu tubuh normal
Intervensi :
Monitor suhu tubuh anak untuk mengetahui peningkatan suhu
Berikan intake cairan adekuat
Berikan kompres bila perlu
Kollaborasi pemberian antipiretik dan antibiotik
6. Resiko penyebarluasan infeksi berhubungan dengan organisme virulen
Tujuan: Perluasan infeksi tidak terjadi
Intervensi :
Tempatkan anak pada ruang khusus
Pertahankan isolasi yang ketat di rumah sakit pada anak dengan TB.aktif
Gunakan prosedur perlindungan infeksi jika melakukan kontak dengan anak.
lakukan uji tuberculin
Berikan anti tuberculosis sesuai order
. 7. Gangguan aktivitas diversional berhubungan dengan isolasi dari kelompok sebaya
Tujuan : Anak dapat melakukan aktivitas sesuai dengan usia dan tugas perkembangan selama menjalani isolasi dari teman sebaya atau anggota keluarga.
Intervensi :
Berikan aktifitas ringan yang sesuai dengan usia anak ( permainan, keterampilan tangan,, video game, televisi)
Berikan makanan yang menarik untuk memberikan stimulus yang bervariasi bagi anak.
Libatkan anak dengan mengatur jadual harian dan memilih aktifitas yang diinginkan.
Ijinkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah selama di rumah sakit
Anjurkan anak untukberhubungan dengan teman melalui telepon jika memungkinkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bahar asril. Tuberculosis Paru. Balai penerbit FKUI.  Jakarta. 2001
Nettina SM Lippincont. Pocket Manual of Nursing Practice. ECG. Jakarta. 2001
Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta. 1997
Suriadi, Yuliani Rita. Asuhan Keperawatan Pada Anak. CV. Agung Seto. Jakarta. 2001

Artikel:

askep hemopthysis, askep pada anak dengan TB Millier
 

Suka artikel ini, Bagikan dengan teman-teman kamu!

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
rss feed bookmar
   
 photo banner300x250.gif
 photo rambutsambungcom300X250.gif

Archives

Categories

Dilihat Terakhir:

Online Visitor